Blog EntryPaspor dan Kantor ImigrasiJan 9, '08 5:27 AM
for everyone
Akhirnya saya mempunyai waktu luang untuk membuat paspor di liburan akhir tahun ini. Padahal saya sudah ingin membuatnya lama sekali, beberapa kesempatan pun terlewatkan akibat hal ini. Sebelumnya saya telah mencari informasi mengenai persyaratan pembuatan paspor ini.

Hari itu dengan membawa formulir dan semua persyaratan, saya datang ke kantor imigrasi. Seperti kantor pelayanan publik lainnya, di kantor ini pun banyak sekali orang yang menawarkan bantuan jasa. Saya pun menolaknya karena sedang tidak tergesa-gesa. Sesampainya di loket yang dituju ternyata masih tutup karena ada pelantikan pejabat baru di kantor tersebut. Ah santai saja lah, toh masih pagi ini jadi belum terlalu banyak orang.

Setelah menunggu "beberapa" saat akhirnya loket pelayanan dibuka. Walhasil setelah mondar mandir beberapa loket akhirnya saya mendapatkan nomor antrian untuk difoto. Dengan sukses saya mendapatkan nomor antrian 81 !!!. Perasaan sudah datang paling pagi dan antrian di depan tidak begitu banyak, nomor antriannya kok sudah sebesar ini. Tetapi yah sudahlah mau protes juga pastinya percuma, siapa yang mau dengar.

Daripada menggerutu tidak jelas, saya mengamati orang-orang berseliweran di kantor tersebut karena semakin siang semakin banyak orang yang datang. Berbagai macam orang ada di kantor itu, antara lain orang yang ingin membuat paspor,calo dan tentu saja pegawai kantor itu sendiri. Di pojok sebelah kanan ada sekumpulan wanita muda yang seperti kebingungan berada di kantor ini. tetapi mereka dikawal oleh beberapa orang yang sedang sibuk mengurus pendaftaran. Kelompok ini saya duga adalah para calon TKW yang hendak dikirim keluar negeri. Di pojok yang lain terdapat 3 orang anak muda dengan penampilan rapih dan terpelajar. Kalau ini saya duga adalah pelajar yang mendapatkan beasiswa ke luar negeri.

Tak jauh dari tempat saya duduk, ada seorang gadis yang sedang merengek kepada ibunya yang berpakaian mewah,karena kesal pengurusan dokumen miliknya yang lama. Gadis ini saya perkirakan adalah tipe mengurus paspor untuk berwisata atau sekolah ke luar negeri. Tipe tipe seperti ini saya temukan juga pada beberapa orang lainnya di ruangan itu.

Tak luput dari perhatian saya adalah para penawar jasa bantuan (baca :calo) yang di ruangan tersebut, yang terbagi menjadi beberapa kelompok. Beberapa orang dengan pakaian rapih bahkan berdasi yang sedang sibuk mondar mandir. Kelompok ini saya interpretasi adalah perwakilan dari biro jasa. Sedangkan kelompok lain yang berpenampilan lebih biasa adalah para calo lokal di kantor itu, seperti yang syaa temui tadi pagi. Calo lokal inipun terbagi dalam beberapa kelompok kerja lagi. Bidang jasa bantuan ini tidak hanya dikuasai kaum adam saja, kaum hawa pun ternyata banyak yang menggelutinya. Mulai dari yang berumur 20-an sampai umur pertengahan, kegesitannya pun tidak kalah dari kaum adam.

Salip menyalip antar kelompok calo tersebut di setiap loket sudah menjadi hal biasa. Saya pun mulai berpikir kapan dokumen saya diproses bila antriannya dipotong terus seperti ini. Hari pun sudah mulai beranjak siang, saya pun memutuskan untuk pergi karena toh saya tinggal melakukan foto dan wawancara. Sedangkan nomor antrian masih berkisar di angka 40-an. Saya pergi ke toko buku di dekat situ untuk menghabiskan waktu. Setelah membeli beberapa buku saya memutuskan untuk makan siang di kampus saja sambil menemui beberapa teman.

Pukul dua kurang saya telah kembali ke kantor imigrasi dan betapa terkejutnya saya. Ternyata nomor antriannya masih berkisar di angka 60-an. Maka saya memutuskan untuk membaca buku yang saya beli tadi buku barunya Kang Abik, Travelers Tale dan beberapa buku lainnya. Pada kesempatan kali ini saya pilih Travelers Tale: Barcelona Belok Kanan. Buku yang ditulis oleh empat orang penulis muda ini menceritakan perjalanan empat orang sahabat menuju Barcelona dari tempat yang berbeda beda yang dibumbui dengan segala romantikanya (saya gak bermaksud jadi spoiler loh...heheh). Buku ini dapat menghibur saya di tengah segala kegondokan ini. Selain itu semakin menggugah saya untuk merealisasikan keinginan masa kecil saya untuk keliling dunia, meskipun sampai sekarang hal ini belum terwujud. Tetapi tidak ada peraturan yang melarang orang untuk bermimpi toh.

Akhirnya nomor antrian saya muncul di monitor loket foto. Saya segera masuk ke ruangan tersebut dan menempati sebuah bangku kosong. Petugas hanya mengarahkan " Duduk tegak dan jangan kedip, Mas", sebelum sempat bergaya model si petugas sudah menjepretkan kamera ke arah muka saya yang sedang bengong. Dapat diperkirakan hasil fotonya akan "ajaib" nih. Tak lama kemudian saya dipanggil ke dalam ruang wawancara dan diberi beberapa pertanyaan basa-basi sepertinya. Bagaimana tidak nomor antrian saya ternyata diletakkan pada nomor antrian dimana kantor imigrasinya sudah hampir tutup. Ternyata sesi foto dan wawancara hanya membutuhkan waktu kurang lebih 10 menit tapi menunggu antriannya itu bisa bikin stress. Mungkin seharusnya saya mengikuti arus saja untuk menyerahkan pengurusan paspor ini kepada yang lebih "ahli". Entahlah !!!



vherouz wrote on Jan 10
Hahahahaha....jadi sapopoe teh inti na mah ngan ngajajanteng wae d kantor imigrasi Sa...ckckckc..
Tapi salut euy, didinya sabar pisan, soalna lamun tinggal foto jeung wawancara mah kuduna datangan wae eta petugas...
Sakali deui salut...
ramutu wrote on Jan 14
saya setia menunggu giliran lah pokoknya...tanpa "usaha" lain-lain pokoknya....hehehehe
mampirsanasini wrote on Jun 2
Kalau begitu, tanyakan saja sama petugas. kenapa lama? kenapa ada orang2yang selalu menyalip duluan, kenapa untuk proses 10 menit saja lama, kenapa ini dan kenapa itu. sejatinya, kan tidak boleh ada yang menyalip, haha...
itu kerap saya lakukan, meski berakhir dengan marah-marahan dengan petugas, hehe
ramutu wrote on Jun 4
nah saat itu saya sedang males narik urat leher.....jadi yah mau gak mau nrimo saja...hehehhe
kilaaya wrote on Oct 31
cuman pengen comment buku travelers tale...bagus yaaa :D beneran pengen jalan2 keliling dunya. 'Cha klo berniat keliling dunia ajak2 dunk...he3x sapa tw qta bisa bikin travelers tale versi lain :p
ramutu wrote on Nov 3
iya emang bukunya emang "provokatif"...jadi pengen jalan2 keliling dunia...hehehe. kl Gak berani ahh ngajak keliling dunia...ntar dimarahin si meru...hehehehhe
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help